Belakangan ini banyak undangan pernikahan teman dan kerabat dekat yang saya terima. Minggu ini ada 3 undangan pernikahan, salah satunya sahabat saya Cassandra yang akhirnya menikah. Yeay! Beruntung, banyaknya undangan pernikahan ini berbanding terbalik dengan pertanyaan orang sekitar ke saya tentang kapan menikah. Hohoho.. Kok aneh? Tapi pertanyaan-pertanyaan nikah sounds familiar, yes? Iya, seperti kebanyakan orang Indonesia yang hobi kepo sama urusan hidup orang lain, tentunya hidup saya di 3 dekade ini tak lepas dari pertanyaan macam itu πŸ™‚

 

yes!
Kalau dulu saya pernah menulis di blog mengenai pernikahan (baca lagi di sini), kali ini saya ingin membahas mengenai pilihan-pilihan dalam hidup, salah satunya menikah. Jelas tertulis di blog saya beberapa tahun lalu, saya ingin menikah. Keinginan yang sama tentunya masih ada hingga kini. Belum berubah πŸ™‚ Lantas mengapa saya belum juga menikah sampai saat ini? Jawabannya ya karena Tuhan belum memberikan pasangan yang terbaik untuk saya. Nyari ngga? Ya nyari, lah! Hahaha..

Saya ingin menjelaskan pemikiran saya mengenai hidup dan berbagai pilihan di dalamnya. Tentunya, kita sebagai manusia punya banyak sekali pilihan-pilihan dalam hidup, selalu dan setiap saat. Mau berangkat ke suatu tempat: sekolah, kampus, kantor misalnya. Ada berapa rute yang bisa diambil menuju ke sana? Pasti ada alasan-alasan mengapa saya lebih pilih rute X daripada rute Y untuk bisa sampai ke kantor seperti yang saya inginkan (nyaman dan bebas macet). Dalam hidup, semua tentang pilihan. Ada orang yang pilih jadi karyawan, ada orang yang pilih kerja jadi freelancer. Ada mereka yang pilih jadi wanita karir, ada pula yang memilih jadi ibu rumah tangga. Ada yang nyaman jadi orang yang biasa saja, ada pula mereka yang inginkan hal-hal outstanding terjadi setiap hari dalam hidup. Ada golongan orang yang memilih menikah, namun ada pula yang memilih tidak menikah. Mana yang salah? Nggak ada. Bebas saja, selama mereka memilih semua dengan pertimbangan masing-masing. Tentunya semua pilihan hidup mengandung masing-masing konsekuensinya ya. Karena mereka yang freelance belum tentu kere dibanding yang karyawan (hohoho!), wanita karir belum tentu nggak becus mengurus rumah tangga, atau yang tidak menikah bukan berarti nggak bahagia.

  Poinnya adalah bagaimana setiap individu bisa berbahagia dengan pilihan-pilihan yang diambil dalam hidup masing-masing. Jangan lupa, indikator kebahagiaan setiap manusia berbeda-beda, tergantung konsep hidup masing-masing. Jangan pernah menilai orang lain tidak bahagia hanya karena dia atau mereka berbeda pilihan hidup dengan kita. Satu lagi, jangan juga membuat pilihan hidup hanya karena masyarakat kebanyakan melakukan itu. Kita tidak bisa serta merta jadi bahagia karena hanya mengikuti apa yang ada di masyarakat. Menurut saya sudah saatnya masyarakat kita menghargai pilihan hidup masing-masing orang, tanpa perlu memaksakan hal yang berlaku umum menjadi pilihan hidupnya. Asal tahu saja, pacaran kemudian menikah itu ngga cukup ‘memuaskan’ dalam masyarakat, hahaha.. Bakalan ada segudang pertanyaan susulan dibelakangnya, seperti: Kapan punya momongan? Kapan nih nambah anak lagi? Kenapa belum punya anak? Dan sejenisnya.

Ketimbang menanyakan pertanyaan basa-basi yang efeknya bisa jadi menyinggung atau menjadi pikiran bagi orang yang ditanya, lebih baik kita mendoakan supaya orang yang kita maksud berbahagia dengan semua pilihan hidupnya. πŸ™‚ Karena kita nggak pernah tahu efek dari setiap pertanyaan dan komentar mengenai pilihan hidup orang lain. So, please be wise..Selamat hari Minggu, teman-teman.. πŸ™‚ Seperti biasa, punya pendapat atau sanggahan? Monggo ditulis di kolom komentar ya πŸ™‚

Views All Time
Views All Time
2211
Views Today
Views Today
3
Tentang Pilihan Hidup
Tagged on:                                         

4 thoughts on “Tentang Pilihan Hidup

  • 22 November 2015 at 6:01 PM
    Permalink

    aku pun kak inne…..

    Reply
  • 22 November 2015 at 6:02 PM
    Permalink

    aku pun kak inne….

    Reply
  • 26 November 2015 at 11:09 AM
    Permalink

    Mungkin ini sebabnya, di budaya “barat”, pertanyaan seperti ini dianggap sbg pertanyaan yg taboo.

    As far as i know, its very personal to ask:
    “where do you live?”
    “are you married?”

    Sementara di kita pertanyaan2 di atas adalah pertanyaan “pembuka” percakapan.

    Well, its always good to think before we speak. And its important to be wise to ask questions.

    Tx for reminding, Nat!

    Reply
    • 7 December 2015 at 4:17 PM
      Permalink

      Iya, sepertinya begitu, mas πŸ™‚

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com