Holla!!

Senang rasanya bisa balik lagi nulis, setelah kemarin-kemarin sempet ngambek karena tulisan yang mau di-publish mendadak ngilang dari draft. Hehehe.. ngambek plus kesel sama diri sendiri. Alright then, tulisan kali ini masih seputar tantangan bersama my blog buddy, momi Priscilla Picauly di tantangan #MomiNat. Kali ini kami sepakat untuk publish 8 foto kami bersama orang lain dalam tema “People and Me” beserta penjelasan singkat mengenai siapa dia, siapa mereka dan short background-nya lah. So, let’s get started! 😀 

Belajar Disiplin Melalui Paskibraka

Rasanya tidak mengherankan kalau saya, perempuan dengan tinggi diatas rata-rata perempuan Indonesia kebanyakan, akhirnya memilih ekstrakulikuler paskibra saat saya di bangku SMU. Hal yang mengherankan adalah ketika saya malah jatuh cinta dengan aktivitas yang identik dengan senioritas, panas-panasan dan hukuman ini. Ya, setelah saya ‘ngga sengaja’ nyemplung lolos di Seleksi Paskibraka tingkat Kecamatan (sekolah saya berada di kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur), kemudian lolos seleksi di tingkat-tingkat selanjutnya, maka singkat cerita, resmilah saya menyandang gelar Capaska alias Calon Pengibar Bendera Pusaka. Seru? Tentunya! Enak? Kata siapa? Hahaha.. Saya harus melewati minggu demi minggu, bulan demi bulan berlatih baris-berbaris di Gelanggang Olah Raga Jakarta Timur di Otista dan kantor Wali Kota, menjalani waktu hukuman fisik yang macam-macam jenisnya, menikmati kebersamaan dan rasa senasib dengan teman-teman seangkatan dari berbagai SMU di Jakarta Timur yang jadi akrab seiring berjalannya waktu.

Rangkaian kejadian dengan tag Paskibraka ini menjadi suatu momen bersejarah saya, seorang anak muda biasa-biasa saja, kemudian terbentuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan ngga menye-menye (untuk ukuran perempuan, haha), plus tertanam rasa solidaritas dan disiplin diri yang saya rasa cukup baik dan berkembang dari saya sebelumnya. Sounds cool? Hahaha, pokoknya terima kasih untuk Purna Paskibraka Indonesia khususnya PPI Jakarta Timur. I love you forever!

Masa-masa Pendidikan Capaska (Calon Pengibar Bendera Pusaka)
Masa Pendidikan Capaska (Calon Pengibar Bendera Pusaka). Tebak saya yang mana? 😉

Meet My Human Diary

My Human Diary
My Human Diary

Pernah dengar hasil riset psikologi tentang 7 tahun persahabatan? Ya, dalam poster-poster digital yang sekarang mudah seliweran di linimasa sosial media kita, mungkin pernah dengar atau baca. Katanya persahabatan yang usianya lebih dari 7 tahun adalah persahabatan untuk selamanya. Apa iya? Saya, sih, senang senang saja bacanya, karena saya memang punya buktinya. Iya, teman-teman cantik di foto di atas adalah sahabat-sahabat saya sejak duduk di bangku SMU. Satu diantaranya saya kenal di SD dan satunya di SMP. Kini lebih dari 16 tahun kami bersahabat, sudah bukan tipe sahabatan yang harus ketemuan sering karena masing-masing sudah disibukkan dengan urusan keluarga dan pekerjaannya, namun kami selalu keep in touch melalui media sosial dan grup chat. Tentunya pertemanan kami tidak juga mulus-mulus saja, banyak juga kejadian up and down yang terjadi, yang akhirnya membuat kami saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Hal seru yang pernah kami alami bersama adalah saat pertengahan Oktober 2011, saya, Mita, Riya dan Bolen sepakat diam-diam pergi mengunjungi Vera yang saat itu tinggal di Surabaya, untuk memberi dukungan sekaligus surprise padanya. Vera saat itu baru saja melahirkan anak pertamanya dan tinggal jauh dari orang tua. Kami berangkat dengan first flight dan sembunyi di dalam kamarnya (tentunya dengan persekongkolan bersama suaminya, dong! Haha). Hasilnya gimana? Sukses berat karena Vera menangis saat kami muncul dari kamarnya. 😀

Lalu pertanyaan tadi muncul lagi: benar gak ya hasil riset tadi? Menurut saya jawabannya ya tergantung orang-orang yang kita sebut sahabat. Kadang metode pengukuran dengan dihitung waktu ngga selalu tepat, ada mahluk-mahluk yang dapat bersahabat dekat hanya dalam waktu sebentar, ada pula yang sudah menahun berteman kemudian tidak merasa dekat dan akhirnya menguap begitu saja.

Memori 8th Jiffest

Volunteer Jiffest 8th
Sebagian Volunteers Jiffest 8th, 20 Desember 2006 di Erasmus Huis Jakarta

Dalam mengisi pengalaman hidup, saya menyadari saya cukup sering terlibat dalam aneka kegiatan berbau volunteering. Sejak kuliah, saya yang tak betah diam dan suka belajar hal-hal baru memang sengaja menyibukkan diri dengan hal-hal menyenangkan macam saat menjadi volunteer. Saat itu festival film di Jakarta yang cukup happening dan saya ketahui adalah Jakarta International Film Festival atau yang biasa disingkat Jiffest. Setelah mendaftar secara online dan menjadi bagian dari tim membership, saya resmi bergabung di Jiffest yang digelar ke 8 kalinya. Festival film ini sebenarnya sudah ada sejak 1999. Tahun itu temanya lolipop, permen warna-warni itu menghiasi seluruh atribut Jiffest dengan warna dasar merah. Sebagian kecil teman-teman sesama volunteer masih berteman dan bertegur sapa jika ketemu. Oiya, saya dan teman baik saya, (Alm) Bona Ritchie mengalami banyak peristiwa yang akhirnya mengakrabkan kami berdua di 8th Jiffest itu. Walaupun sudah lewat 10 tahun, saya masih menyimpan kaus 8th Jiffest berwarna merah itu dengan baik di lemari di rumah. Kadang menyimpan benda itu dilakukan karena memori dibelakang benda itu ya 🙂


Deg-Degan di Sidang Skripsi

Terlalu sulit bagi saya untuk bisa berbagi pengalaman 4 tahun kuliah dalam tulisan pendek. Tapi cukuplah saya rangkum melalui sedikit kisah masa-masa akhir kuliah. Hari itu 7 Agustus 2007, saya mengenakan baju terusan berwarna hitam, melangkah dengan jantung deg-degan ke suatu ruangan di Gedung Baru Kampus IISIP Jakarta di Lenteng Agung. Saya membawa tas dokumen transparan dengan pinggiran berwarna biru, duduk di tengah 3 dosen penguji yang menguji skripsi saya. Jangan tanya apa judul lengkap skripsi saya karena saya ngga ingat, hahaha.. Hal yang pasti, skripsi saya meneliti rubrik Sosok di Harian Kompas, menggunakan metode Analisis Isi Kuantitatif. Waktu berlalu tak terasa dan selesailah masa-masa deg-degan di penghujung akhir tahun belajar saya di kampus. Senang dan lega, ada sedihnya juga karena kehilangan masa-masa seru bersama teman-teman di kampus. Tapi saya senang karena saat sidang begitu banyak teman yang ikut support dengan datang dan menonton sidang saya (Iya, sidang di kampus saya terbuka untuk umum), jadi waktu sidang sedikit merasa teralihkan karena ramai dan merasa didukung. Untungnya dokumentasi foto-foto saat sebelum sidang, sidang dan pasca sidang terdokumentasi dengan baik, jadi di masa sekarang bisa senyum puas ngeliatin foto-foto di masa penting itu 😀

Sebagian "penunggu" di ruang sidang skripsi saya. Love you all! :*
Sebagian “penunggu” di ruang sidang skripsi saya. Love you all! :*

Sehari di Rumah BJ Habibie

One of my best day in my life
One of my best day in my life

Suatu hari di akhir Agustus 2011, hari yang saya tunggu dalam hidup. Bukan, bukan mau lamaran atau mau nikahan, hahaa 😀 Hari itu saya dan tim pembuat greetings dari penugasan kantor akan bertemu orang yang spesial dalam hidup saya. Seorang tokoh yang saya kagumi sejak saya masih kecil, masih pakai seragam putih-merah. Ya, dia adalah Baharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disapa Pak Habibie. Saat itu saya bermaksud menemuinya untuk membuat greetings untuk kantor saya yang segera akan on air di September 2011. Masuk ke kediamannya di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, saya merasakan keasrian dari pohon dan tanaman yang sengaja ditanam untuk penghijauan rumah. Lalu kami segera masuk ke perpustakaan pribadi milik pak Habibie yang diberi nama The Habibie & Ainun Library. Perpustakaan ini didominasi kesan warna emas dan unsur kayu. Saya sempat terpana saat masuk karena banyaknya koleksi buku milik pak Habibie dan indahnya ukiran-ukiran di dalamnya!

Singkat cerita, pada pertemuan itu, pak Habibie sosok yang antusias terhadap apa yang ia sukai dan ia cintai. Ini sangat saya sadari misalnya sewaktu break untuk setting ke adegan selanjutnya, tim kameraman yang terdiri dari 4 rekan saya, Haris Setiawan, Achmad Lukman, I Gede “Abel” Dharma dan Akbar Berno meminta saya berbincang dengan pak Habibie karena mereka perlu waktu yang agak lama untuk camera setting dan blocking. Maka saya dan pak Habibie pun ngobrol seru tentang istri pak Habibie, ibu (almh) Hasri Ainun dan semua kebiasaan mereka berdua saat ibu Ainun masih hidup. Obrolan tersebut tanpa saya sadari berlangsung cukup lama, mungkin sekitar 40-60 menit dan saya tenggelam dalam kedalaman cintanya untuk ibu Ainun sampai ngga lihat kode-kode yang sudah lama diberikan oleh rekan kameraman saya 😀 Maafkan yaaaa… Ternyata mereka sudah selesai setting dan blocking camera, hanya nunggu talent-nya alias pak Habibie yang asyik ngobrol dengan saya. Waktu saya nengok, keempat kameraman ini sudah dalam posisi duduk-duduk santai, haha.. Sudah ngga ada yang di belakang kamera lagi 😀 Nah, di foto yang saya tampilkan ini, pak Habibie sedang memotret saya dengan koleksi kamera favoritnya, Leica. Pak Habibie meminta asistennya, pak Rubi untuk mengambil kotak koleksi kameranya (yang semuanya merk kamera buatan Jerman, Leica) lalu memotret saya. Beberapa hasilnya ditunjukkan kepada saya dalam hasil foto black and white. Pak Rubi sang asisten berharap hobi memotret pak Habibie ini suatu saat akan dipamerkan. Kemudian pak Habibie berseloroh sambil tertawa dengan tertawa khasnya, “Nanti foto kamu ini saya masukkan juga di pameran itu.”

Mendung di Belitong

Mendung ngga menghalangi sesi foto-foto kami
Mendung ngga menghalangi sesi foto-foto kami 😀

Di akhir Oktober 2011, 6 muda-mudi Ibu Kota memutuskan liburan menuju negeri Laskar Pelangi yang kami nikmati melalui buku-buku karya Andrea Hirata dan film layar lebarnya yang menyusul kemudian. Sebenarnya Belitong saya banyak kenal dari cerita salah satu narasumber saya yang saat itu aktif meliput di MPR-DPR RI. Narasumber anggota Komisi II DPR ini kemudian akrab dengan saya untuk ngobrol tak hanya seputar politik, tapi rupa-rupa informasi lainnya, kerap ‘meracuni’ saya dengan keindahan kampung halamannya, Bangka Belitung dan kecantikan pantai-pantainya. Maka di 2011 itulah, racun dari bang Ahok yang sekarang menjadi Gubernur DKI Jakarta ini mencapai puncaknya. Saya pergi ke Belitong bersama 5 teman dan menginap di hotel milik keluarganya, Hotel Purnama di Belitong Timur.

Sayangnya saat kami berencana menjelajah pulau-pulau cantik di Belitong Barat, bersamaan dengan hujan turun mulai pagi hari sampai siang. Kami tetap berangkat walau sepanjang jalan hujan tak berhenti turun. Hopping island pun tetap kami jalani ke Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Lengkuas, Pulau Burung dan Pulau Batu Berlayar. Tuhan kemudian berbaik hati dengan menurunkan hujan kecil saja alias gerimis di area cantik Pulau Lengkuas. Seperti yang bisa dilihat, foto-foto di kawasan cantik Pulau Lengkuas kami dapatkan walau dengan kondisi langit yang cukup gelap. Hehe..

One Crazy Day

Februari 2013 lalu, demam Harlem Shake masuk ke Indonesia. Tak ketinggalan dengan tren joget yang viral ini, teman-teman sekantor pun ikutan membuat videonya! Kami mempersiapkan barang yang menjadi properti kami masing-masing sebelum syuting day. FYI, pengambilan gambar dilakukan benar-benar di studio untuk on air tayangan berita, haha.. Cek hasil kegilaan kami di sini. Gosh, 3 tahun lebih berlalu dan masih ketawa-tawa tiap nonton videonya! 😀 😀

How can I don't love them?
How can I don’t love them? They are my crazy and fun office mates

Menginspirasi dan Terinspirasi di Kelas Inspirasi

Tetot! Terlalu banyak mengulang kata “inspirasi”, hehehe.. Menulis tentang Kelas Inspirasi atau Komunitas Inspirasi kesayangan saya ini tak cukup dalam dua paragraf. Mesti satu tulisan penuh! Pertama ikutan mengajar anak-anak Sekolah Dasar malah saya lakukan tak sengaja ketika teman-teman Kelas Inspirasi Bekasi mengajak saya bergabung mengajar di Hari Inspirasi mereka. Saat itu baru batch perdana, mereka mengundang teman-teman yang bekerja di media, yaitu saya, Cindy dan Timmy untuk mengajar. Ternyata mengajar anak-anak SD butuh kesabaran dan keahlian, lho! Hahaha.. Saya yang harusnya menginspirasi mereka, ternyata malah terinspirasi oleh keluguan, kepolosan dan 1001 cerita mereka. Selanjutnya bisa ditebak, saya keranjingan menjadi volunteer acara serupa di Jakarta dan di Kepulauan Seribu. Pengalaman berinteraksi dengan anak-anak dan bertemu dengan sesama volunteers yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman keren yang bejibun, membuat saya senang berada di komunitas ini. Memanglah benar adanya, untuk berbahagia kita perlu membahagiakan orang lain. Kebahagiaan itu menular! Sudahkah kamu bahagia hari ini? 😀

Be happy for no reason like a child :)
Be happy for no reason like a child 🙂 Saya saat menjadi volunteer documentator di SDN Pulo Panjang 1, Banten
Views All Time
Views All Time
1443
Views Today
Views Today
4
Happy People
Tagged on:                                                                                                             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com