Kamu wisata ke Semarang lalu memasukkan kelenteng Sam Poo Kong dan makan lumpia ke rencana perjalananmu? Itu udah biasa.. Lalu apa dong kegiatan pelesir dan kulineran lain di kota jamu ini? Yuk, baca terusss…

1. Mampir ke Danau Rawa Pening

Danau Rawa Pening di Ambarawa, Kabupaten Semarang banyak disebut para travelers sebagai spot terbaik Semarang untuk menikmati matahari terbenam. Harus saya akui, di Semarang tidak banyak tempat indah menyaksikan matahari terbenam. Cita-cita saya ke danau alam Rawa Pening sudah ada sejak 4 tahun lalu. Rencananya berkunjung ke Rawa Pening saat sunset setelah muter-muter dulu dengan kereta uap. Apa daya, 3 kali saya berencana naik kereta uap di 3 kunjungan berbeda, namun hasilnya gagal karena berbagai alasan, misalnya: kehabisan tiket kereta uap (yang dibeli di Museum Kereta Api di Ambarawa), museum sedang renovasi dan jika tiket tersedia, ternyata jadwal penerbangan saya kembali ke Jakarta saat itu sangat mepet. Belum jodoh. Alhasil, baru sekali ini saya (akhirnya) berhasil mampir ke Rawa Pening! Yay!!

Akhirnya
Rawa Pening sore itu

Namun sayang, situasi Danau Rawa Pening yang luasnya lebih dari 2600 hektar itu sekarang sedang terjadi pendangkalan. Banyaknya eceng gondok juga menjadi masalah di sini. Bahkan dari berita yang saya pernah dengar, menurut Kementerian Lingkungan Hidup, Rawa Pening terancam jadi daratan di tahun 2021 jika sendimentasi dan eceng gondok terus tumbuh tanpa ditangani. Sekarang 80% wilayah perairan Rawa Pening sudah tertutup eceng gondok! Hiks..

Rawa Pening dengan pengambilan dari udara. Foto oleh
Rawa Pening dengan pengambilan dari udara. Foto oleh Putu Aditya
Eceng gondok di Rawa Pening
Keberadaan eceng gondok sebagai gulma di Rawa Pening

Saat main ke Rawa Pening, saya melihat ada kapal aquatic dan juga traktor yang sedang mengeruk eceng gondok di sana. Kemudian saya mengikuti cerita perjalanan eceng gondok yang dikeruk itu, yang ternyata menjadi sumber energi baru. Pemanfaatan sumber energi baru ini dipakai produsen jamu nusantara, Sido Muncul untuk menjadi bahan bakar yang disebut wood pellet. Wood pellet sebagai bahan pengganti minyak dan gas yang murni berasal dari tanaman eceng gondok. Wah, saya baru tahu manfaat lain eceng gondok selain dibuat kerajinan tas yang cantik-cantik itu.

Wood pellet
Wood pellet dari pengolahan eceng gondok, siap digunakan sebagai briket bahan bakar

Selain melihat kecantikan khas danau alam yang masih alami, jalan-jalan di area Rawa Pening dan berfoto-foto bisa jadi pilihan, tentunya sembari menunggu waktu matahari terbenam. Seperti yang dilakukan saya bersama Rere dan Chicco yang sibuk foto-foto di Jembatan Biru, haha. 😀

Rere asyik bergaya
Rere asyik bergaya, padahal deg-degan juga karena hanya beralaskan bambu yang goyang-goyang kena arus air

2. Main ke Pabrik Sido Muncul di Ungaran

Jika di zaman orang tua kita obat-obatan yang dianggap manjur menyembuhkan adalah jamu, maka jamu di masa kini ikut berubah bentuk mengikuti perkembangan jaman. Hayo jujur, siapa yang sering menenggak habis sachetan jamu dalam bentuk Tolak Angin Cair? Atau sekadar minum serbuk Kunyit Asam instan untuk berbagai tujuan. Iya, saya sendiri termasuk orang yang wajib bawa jamu saat traveling. Bukan karena usia (iya, ini ngeles), tapi semata-mata demi menjaga kebugaran. Hehehe.. Makanya saya excited saat diajak produsen jamu terbesar di Indonesia, Sido Muncul berkunjung ke pabriknya beberapa saat lalu. Pabrik Sido Muncul berada di Klepu, Ungaran, Semarang.

Logo awal jamu Sido Muncul
Logo awal jamu Sido Muncul: (almh) Ibu Rakhmat Sulitio (1897-1983) bersama cucu ke enamnya, Irwan Hidayat

Sejarah Sido Muncul dimulai dari kemahiran almarhumah Go Djing Nio (Rakhmat Sulistio) membuat jamu dan aneka rempah. Tahun 1941, suami istri ini membuat dan memasarkan jamu dengan merek Tujuh Angin di Jogjakarta. Akibat Agresi Militer Belanda dua, sejak 1949 mereka pindah ke Semarang dan mendirikan usaha jamu bernama Sido Muncul, yang artinya “impian yang terwujud”. Sido Muncul mulai berkembang kemudian, hingga pada 2013 lalu menjadi perusahaan terbuka. Sido Muncul kini dipimpin oleh Irwan Hidayat, cucu ke enam almarhumah Go Djing Nio, yang turut menjadi bagian dari sejarah Sido Muncul dengan kemunculannya menjadi bagian dari logo jamu selama bertahun-tahun.

Irwan Hidayat
Irwan Hidayat bersama lukisan foto sang nenek pendiri jamu Sido Muncul
Bahan baku pembuatan jamu
Bahan baku pembuatan jamu

Produk Sido Muncul saat ini sudah diekspor ke beberapa negara Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Brunei dll), Australia, Korea, Nigeria, Algeria, Hong Kong, USA, Saudi Arabia, Mongolia dan Rusia. Wuiih! *tepuk tangan* Di pabrik seluas 8 hektar ini ternyata sudah menjadi satu-satunya pabrik jamu berstandar farmasi.

Suasana di salah satu laboratorium
Suasana di salah satu laboratorium di pabrik Sido Muncul
Tak asing lagi, haha
Tak asing lagi, haha
Melihat area pengemasan
Melihat area pengemasan produk
Pengemasan
Pengemasan produk
Peserta kunjungan hepi foto bareng pak Irwan
Para bloggers dan influencers peserta kunjungan hepi foto bareng pak Irwan
Saya ngga mau ketinggalan foto bareng pak Irwan
Saya ngga mau ketinggalan foto bareng pak Irwan
Isi goodie bag dari Sido Muncul
Isi goodie bag dari Sido Muncul

Pabrik Jamu Sido Muncul

Jl. Soekarno Hatta KM 28, Bregas, Klepu, Semarang.

Info kunjungan: (0298) 523 515 

 

3. Mencoba es krim rasa Tolak Angin

Berkunjung ke Semarang, ngga lengkap kalau ngga kulineran. Banyak menu mengenyangkan sekaligus menenangkan mulut dan perut di sini. Perpaduan budaya Jawa Tengah dan Cina banyak ditemukan di berbagai menu makanan. Kali ini saya mencoba datang ke cafe yang punya menu Jawa, menu Tiongkok dan juga menu barat, yaitu Koenokoeni Cafe di kawasan Candisari. Sentuhan interior dan koleksi barang antik menyambut saat masuk ke cafe ini.

Koenokoeni
Lambang Koenokoeni Cafe menyambut di pintu masuk

Sayangnya saat itu perut sudah kenyang, sehingga saya hanya memesan minuman dan dessert saja. Untuk hidangan pencuci mulut, saya penasaran dengan es krim rasa Tolak Angin yang belum pernah saya temukan di tempat lain dan juga es krim rasa rujak, sehingga saya memesan masing-masing satu scoop.

Pilihan rasa es krim di
Pilihan rasa es krim di Koenokoeni Cafe and Gallery

Ternyata alasan dibalik adanya es krim rasa Tolak Angin ini adalah karena pemilik cafe masih termasuk keluarga pemilik jamu Sido Muncul. Pantes ya ada rasa unik ini. Buat saya yang memang mesti bawa perbekalan Tolak Angin Cair tiap bepergian, rasa es krim ini sangat otentik dan lebih milky dari Tolak Angin aslinya, hehe.. Dingin di tenggorokan, alias semeriwing kalau kata orang Jawa, hahaha 😀 So, es krim rasa Tolak Angin ini jadi menu wajib yang harus kamu pesan saat mampir ke Koenokoeni Cafe, ya!

Es krim Tolak Angin
Es krim Tolak Angin yang rasanya semeriwing 😛

Salah satu sudut Koenokoeni Cafe yang menjual aneka kerajinan dan budaya lokal, salah satunya sudut batik ini.

Cantik ya
Batik Cirebon di Koenokoeni, cantik ya..

Koenokoeni Cafe Gallery

Jalan Tabanan No 4, Candisari,

Semarang

 

4. Makan kue lekker Paimo

Setiap memasukkan ‘makan kue lekker’ di daftar rencana perjalanan saya di Semarang, beberapa teman biasanya bertanya mengenai apa itu kue lekker dan mengapa saya harus ke sana. Banyak kota di Indonesia punya versi kue lekkernya sendiri. Sepengetahuan saya, kata ‘lekker’ dari bahasa Belanda yang artinya enak, puas, senang. Nah, lalu apa hubungannya dengan kue lekker? Hahaha.. Saya sendiri kurang tahu apa hubungannya, tapi kalau saya hubung-hubungkan (tentunya asal) ya, kuliner kue lekker itu ya memang enak dan menyenangkan rasanya, hehe..

Nyam!
Nyam!

Kue lekker adalah sejenis crepe yang sudah dimodifikasi isiannya. Lekker yang biasa saya datangi saat ke Semarang adalah Lekker Paimo yang udah jualan dari tahun 1978. Eits, tapi saya perlu info dulu dari awal kalau antrean mendapat kue ini dapat dikategorikan antrean woles dengan combo perlu sabar agak banyak, haha.. Karena memakan waktu paling sedikit, 1 jam! Iya paling minimal 1 jam. Jadi, jangan datang ke sini dalam keadaan perut lapar, ya! Nanti bisa ngamuk kalau kelamaan nunggu, hehe..

Finally!
Finally!

Untuk menuju ke Lekker Paimo, sebaiknya kamu menelepon terlebih dahulu, karena terkadang lekker habis ataupun tidak buka. Jika sudah memastikan Mister Paimo buka, langsung deh menuju SMU Kolose Loyola, persis di depannya akan ada gerobak kecil dengan antrean pengunjung yang ingin makan kue ini. Saran pak Paimo memakan lekker dalam keadaan panas, jadi memang lebih nikmat dimakan langsung di tempat. Oiya, menurut saya lekker dengan rasa dominan manis seperti keju, karamel, kacang, coklat, jagung, susu masih enak, sih, kalau dibungkus. Sedangkan rasa gurih, seperti tuna dengan keju mozzarella atau telur keju sosis, sebaiknya dinikmati selagi hangat. Bisa ditarik-tarik hingga mulur, tuh, kejunya! :p Harga mulai Rp. 1.500 hingga Rp. 20.000 per porsi.

My all time favorite menu from Paimo Lekker
My all time favorite menu from Paimo Lekker: tuna keju mozzarella (Rp. 20.000)

Lekker Paimo

Jl. Karang Anyar 37, Semarang

(Depan SMU Kolose Loyola)

Kontak: Pak Paimo +628156595412 

 

5. Mencicipi segarnya soto ayam khas Semarang

Soto menjadi hidangan paling umum di banyak daerah di Indonesia, termasuk juga di Semarang. Kenapa saya bilang umum? Ya, karena setiap daerah di Indonesia punya “soto” versi masing-masing, yang tentunya menjadi khas karena isian dan jenis kuah yang berbeda-beda. Di Semarang, sotonya berkuah bening, dengan rasa gurih kaldu. Diisi dengan campuran bihun, tomat, toge, suwiran ayam, seledri, bawang goreng dan irisan bawang putih goreng. Pelengkap makan soto khas Semarang adalah aneka sate dari organ tubuh ayam yang dimasak dengan cita rasa manis gurih, telur puyuh, perkedel kentang dan juga tempe goreng yang digoreng tipis-tipis.

Lokasi soto Pak Man
Lokasi soto ayam Semarang Pak Man cabang Pamularsih
Soto
Soto
Hangatnya Soto Pak Man
Hangatnya Soto Pak Man
Pelengkap makan soto
Pelengkap makan soto
Tempe goreng hangat yang menggugah selera
Tempe goreng hangat yang menggugah selera

Soto Ayam Semarang Pak Man

Ada 5 cabang, salah satunya di

Jl. Pamularsih Raya no. 32, Semarang

 

6. Berfoto di Kawasan Kota Lama Semarang

Kawasan Kota Lama Semarang menjadi salah satu daerah Instagramable di Semarang. Daerah perdagangan di abad 20 ini memiliki pesona seperti Kota Tua di Jakarta, lengkap dengan banyaknya bangunan bergaya Eropa di sekitarnya. Sebut saja Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel atau populer disebut Gereja Blenduk karena atapnya berbentuk bulat (blendug dalam bahasa Jawa),  Taman Srigunting, Stasiun Kereta Api Tawang, Cafe Spiegel, Pasar Klitikan dan masih banyak bangunan lainnya yang tak ada nama populernya. Tak heran jika kawasan ini disebut Little Netherland karena banyaknya bangunan bergaya Belanda di sini dan foto-fotoan di sini ngga kayak di Semarang.

Dwika dan Fitri di depan Gereja Blenduk
Hasil foto Dwika dan Fitri di depan Gereja Blenduk

 

Kalau mampir #Semarang dan punya waktu luang, mampir deh ke Kawasan Kota Lama Semarang. Di area ini kita bisa nemuin sekitar 50an bangunan-bangunan arsitektur Eropa. Masuk area ini gratis dan bisa puas-puas foto-foto, hehe.. Ngga heran Kota Lama di Semarang ini dijuluki "Little Netherland" karena kalo di sini, emang ngga berasa di Indonesia karena bentuk bangunannya. Dulunya kawasan ini dipakai jadi pusat perdagangan di abad 19-20, lho. Sayang foto ini terpotong. Ngga bisa seluruhnya terpasang. Versi lengkapnya ku unggah di IG story ya.. Btw, foto keren ini difotoin cah Semarang @hyudee Suwun, masnyaa 😁🙏🏼 #InnathJalanJalan #InnathSemarang #KotaLama #KotaLamaSemarang #LittleNetherland #InnathOOTD #innath

A post shared by Inne Nathalia • Hakuna Matata (@innath) on

Oiya, sejak 2015 lalu kawasan Kota Lama juga masuk daftar sementara warisan budaya dunia di UNESCO, lho. Tautan selengkapnya bisa dibaca di sini. Berhubung area Kota Lama adalah area publik, tip saat mengunjungi Kawasan Kota Lama: tetaplah waspada dan berhati-hati terhadap lalu lintas dan keramaiannya, ya. Tidak ada tarif khusus masuk ke area ini. Datanglah pagi hari sembari berkeliling sambil menikmati pesona lawas dan vintage ala Eropa di sini. Jika lapar dan lelah, bisa mengunjungi Cafe Spiegel atau Sate dan Gule Kambing 29 di depan Gereja Blenduk yang rasanya memuaskan.

 

7. Menikmati lezatnya gimbal udang, mangut dan cumi item Bu Ana

Sejujurnya sulit untuk saya menulis bagian ini tanpa membayangkan lezatnya aneka masakan di warung makan milik Ibu Ana. A must visit resto, deh! Masukkan tempat ini ke daftar perjalananmu dan nikmati sendiri enaknya perpaduan gurihnya gorengan udang (yang disebut gimbal udang di Semarang), nasi putih hangat, cumi masak tinta hitam dan ikan mangut. Namun Ibu Ana tak hanya menyajikan 3 jenis makanan yang saya sebutkan karena ada masakan lain seperti aneka olahan kepiting dan srimping (sejenis kerang), aneka ikan seperti ikan manyung dan ikan sembilangOiya, warung makan ini tergolong warung makan sederhana ya, tanpa pendingin ruangan dan lokasinya bisa jadi tidak nyaman untuk kamu yang menyukai kenyamanan penuh saat makan. Namun, saran saya, jangan lewatkan makan di sini. Tip lain, datang sebelum jam makan siang supaya tidak berdesakan ataupun antre.

Gimbal udang yang rasanya ngangenin!
Gimbal udang yang rasanya ngangenin!
cumi item yang mak nyusss
cumi item yang mak nyusss
mangut ikan
mangut ikan, menu khas warung Bu Ana

Rumah Makan Bu Ana

Jl. Maerokoco (Puri Anjasmoro),

sebelum pintu masuk Rumah Makan Kampung Laut
Semarang

Buka mulai pukul 10.00 WIB

 

8. Menginap di Hotel Chanti

Kunjungan ke Semarang, tak lengkap tanpa membahas akomodasi. Pilihan hotel tempat saya tinggal di Semarang adalah Hotel Chanti yang lokasinya strategis, di pusat kota Semarang, yaitu di Jalan Gajahmada. Lokasi ini menyenangkan karena dekat ke mana-mana, termasuk ke pusat oleh-oleh Semarang di Jalan Pandanaran. Bandara Ahmad Yani hanya 20 menit dari Hotel Chanti, begitu juga dengan Stasiun Tawang yang berjarak hanya 2 kilometer. Oiya, Hotel Chanti merupakan hotel dengan manajemen yang sama dengan Hotel Tentrem di Jogjakarta. Pasti tahu ya nyamannya Hotel Tentrem 😀

Mbak resepsionis Hotel Chanti yang ramah menyambut kami
Mbak resepsionis Hotel Chanti yang ramah menyambut kami

Satu yang menjadi favorit saya di hotel ini adalah minuman alang sari dingin yang selalu tersedia dekat meja resepsionis, hehe.. Rasanya pas dan tepat bila saya minum setelah beraktivitas di kota Semarang yang udaranya cukup menyengat. Overall, saya selalu menikmati kunjungan wisata ke Semarang dengan menginap di sini. Selain lokasi strategis, fasilitas hotel lengkap, menu sarapannya enak, juga koneksi Wi-Fi di kamar yang kencang.

Kamar
Kamar Premiere Twin Bed Hotel Chanti yang nyaman
Penting! Asupan Tolak Angin Cair disediakan di Hotel Chanti
Penting! Asupan Tolak Angin Cair dan Kunyit Asem tersedia di Hotel Chanti
Bath robe cantik dengan warna kuning khas Hotel Chanti
Bath robe cantik dengan warna kuning kunyit khas Hotel Chanti tersedia di setiap kamar

Hotel Chanti

Jalan Gajahmada no. 40, Semarang

Telepon: (024) 86570555 

Website: http://www.hotelchanti.com/

 

Sekarang sudah ada gambaran mau ke mana di Semarang? Colek saya melalui media sosial @innath jika kamu mencoba salah satu rekomendasi dari saya. Ada saran lain saat berwisata di kota lunpia ini? Yuk tulis di bagian komentar di bawah ini ya.. Happy Traveling!

Views All Time
Views All Time
1721
Views Today
Views Today
1
8 Hal yang Harus Kamu Coba di Semarang
Tagged on:                                                                                                                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com