Sebagai pencinta plesir ke tempat bersejarah, nama Bagan sudah jauh-jauh hari saya masukkan ke salah satu destinasi impian. Ternyata begitu menjejakkan kaki ke sana, saat itu pulalah hati saya tertinggal di sana.

screen-shot-2016-10-16-at-12-01-45-am

 

Mendarat di Yangon International Airport, saya disambut sekelompok pria-pria dengan sarung khas Myanmar yang disebut longyi. Iya, longyi di Myanmar semacam baju tradisional dan dipakai sehari-hari oleh masyarakat kebanyakan, laki-laki dan perempuan. Tentunya longyi untuk perempuan berbeda ukuran dan model dengan longyi untuk laki-laki.

men with longyi everywhere
men with longyi everywhere

Beberapa teman bertanya hal serupa ketika saya menyebutkan Bagan sebagai destinasi yang akan saya tuju dalam waktu dekat. Menjawab pertanyaan tujuan wisata saya berikutnya dengan penuh sukacita, ternyata berbalas ekspresi bingung dan pertanyaan lanjutan: Ada apa yang menarik di sana? Bagan dikenal sebagai negeri seribu candi yang cantik dan eksotis. Namun, Bagan yang terletak di Myanmar (sebelumnya bernama Burma) belum menjadi tujuan wisata populer Asia, terutama Asia Tenggara karena kalah populer jika dibanding Thailand dengan Bangkoknya atau Singapura. Padahal UNESCO sudah terlebih dahulu mengetahui pesona arkeologi di balik Bagan dan menjadikannya sebagai Archaeological Area and Monuments pada Oktober 1996.

Percaya nggak, ini nggak diedit sama sekali, lho!
Salah satu pemandangan kece di Bagan. Percaya nggak, ini nggak diedit sama sekali, lho!

Mungkin salah satu penyebab kurang populernya Myanmar sebagai destinasi wisata oleh orang Indonesia salah satunya disebabkan penggunaan visa untuk masuk ke negaranya. Namun sejak Oktober 2014 lalu, para pejalan dari Indonesia bebas visa untuk masuk Myanmar selama maksimal 14 hari kunjungan. Jadi, pelancong tak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk masuk ke negara ini.

 

Matahari Terbit dan Tenggelam

 Pencinta fotografi dan bangunan kuno sangat dimanjakan di Bagan dengan beragam bentuk candi yang unik dan menarik untuk difoto. Letaknya yang tidak berjauhan membuat wisata arkeologi ini menjadi semakin menyenangkan. Untuk berkunjung dan mengeksplorasi Bagan, terlebih dahulu kita harus membayar biaya masuk 25.000 Kyat atau sekitar Rp. 275.000. Biaya tersebut berlaku untuk lima hari kunjungan di Bagan. Nantinya kamu akan mendapat potongan tanda bukti pembayaran yang sebaiknya selalu dibawa setiap berjalan-jalan di Bagan. Jika hilang atau tidak membawa, kamu harus membayar kembali di beberapa tempat yang memberlakukan pembayaran tiket masuk, seperti di Pagoda Shwesandaw.

Pagoda
Pagoda Shwesandaw, gede ajaaaa.. Naik tangganya lumayan, nih.
Salah satu pengumuman di penginapan: jadwal liat sunrise dan sunset
Salah satu pengumuman di penginapan: jadwal liat sunrise dan sunset
Rame-rame nontonin matahari terbenam
Rame-rame nontonin  dan motret matahari terbenam

Saat paling tepat menikmati kecantikan pemandangan candi–candi Bagan adalah saat matahari terbit dan matahari terbenam. Untuk pemandangan terbaik saat matahari terbit, kamu bisa berkeliling di atas kota Bagan dengan menggunakan balon udara. Biayanya mulai 330 dollar AS per orang atau sekitar Rp 4,3 juta. Pemandangan matahari terbenam adalah favorit para turis dengan menikmatinya dari Pagoda Shwesandaw. Tak heran, pagoda ini sangat ramai jika mendekati waktu matahari terbenam. Jika kamu ingin melihat pemandangan matahari terbenam terbaik, datanglah ke pagoda ini lebih cepat untuk mencari lokasi terbaik kesukaan kamu.

Bagan hot air balloon.. Cantik, ya?
Bagan hot air balloon.. Cantik, kan? Foto dari sini, karena pas saya datang operatornya lagi ngga beroperasi

Candi dan Pagoda Populer

Beragam jenis candi, stupa dan pagoda di Bagan pada sejarah awal pembuatannya digunakan sebagai tempat ibadah dan tempat pendalaman agama Buddha di Myanmar dan kawasan Asia lainnya seperti India. Menurut UNESCO, jumlah candi dan peninggalan sejarah Buddha lainnya di Bagan mencapai lebih dari 2.500 buah. Seluruhnya dibangun pada abad ke 10 hingga ke 14 sebelum Masehi. Candi-candi ini masih berdiri kokoh dan beberapa menjadi spot kesayangan para turis, baik untuk sekedar melihat matahari terbit atau terbenam, ataupun kunjungan biasa dan berfoto.

dsc_0306
No edit, no retouch

Jangan lewatkan empat candi dan pagoda yang wajib kamu datangi saat berkunjung ke Bagan:

Candi Shwezigon

Candi agama Buddha ini berada di Nyaung-U, kota di dekat Bagan. Bisa dikatakan, candi ini termasuk candi tua yang ada di Bagan. Candi Shwezigon berulang kali terkena gempa bumi dan bencana alam lainnya, juga telah mengalami beberapa kali renovasi. Candi ini gampang dikenali karena pada renovasi terakhirnya, candi ini dilapisi sekitar 30.000 tembaga. Letaknya berada sebelum masuk kota Bagan dari arah Yangon, sehingga sebaiknya kamu tak melewatkan untuk mengunjungi Candi Shwezigon saat ke Bagan.

dsc_0509

Candi Ananda

Tak berbeda dengan Candi Shwezigon, Candi Ananda adalah candi bagi umat Buddha dan termasuk candi yang bertahan sejak awal pembuatannya di tahun 1105. Meski pernah terkena bencana alam tahun 1975, candi ini dibangun kembali dan berusia lebih dari 900 tahun. Desain candi ini punya banyak kesamaan dengan Candi Pathothamya dari sekitar abad 10. Di candi ini terdapat empat patung Buddha dari empat zaman. Kakusandha menghadap ke utara, Konagamana menghadap ke timur, Kassapa menghadap ke selatan, dan Guatama sebagai Buddha terbaru menghadap ke barat.

img_9836

Candi Sulamani

Candi umat Buddha ini adalah salah satu candi yang paling sering dikunjungi wisatawan di Bagan. Dibangun pada 1183 oleh Raja Narapatisithu, candi ini juga mengalami beberapa kali bencana alam dan telah direnovasi. Desain candi ini banyak menggunakan batu bata dan batu, membuatnya nampak menarik untuk menjadi objek foto.

Sulamani
Candi Sulamani

Pagoda Shwesandaw

Pagoda ini adalah pagoda umat Buddha dan sangat populer sebagai tempat terbaik menyaksikan matahari terbenam di Bagan. Pagodanya terdiri dari 5 teras dengan stupa bentuk silider berada di atasnya, khas pagoda Myanmar pada umumnya. Shwesandaw dibangun pada 1057 dan memiliki beberapa bagian terbuat dari batu bata. Tip berkunjung ke pagoda ini: datanglah lebih cepat sebelum waktu matahari terbenam untuk mendapat spot terbaik favorit kamu dan jangan lupa membawa bukti pembayaran tanda masuk kamu ke Bagan karena akan diminta sebelum masuk Shwesandaw.

Kegiatan saya saat di Bagan, duduk2 motret sunset atau sunrise. Nyaman dan ngangenin!
Kegiatan saya saat di Bagan, duduk2 motret sunset atau sunrise. Nyaman dan ngangenin! Yang ini spot dari Candi Bulethi.

Citarasa ala Myanmar

            Seperti mayoritas negara Asia lainnya, nasi masih menjadi makanan pokok yang dapat ditemui di beberapa kuliner khas Myanmar. Nasi dalam kuliner Myanmar dapat disajikan dengan beragam menu lain, seperti sup, salad, kari, goreng-gorengan. Salah satu kuliner wajib coba di Myanmar adalah thoke, salad ringan dengan cita rasa asam pedas yang terbuat dari sayuran mentah dan buah, dicampur dengan air perasan lemon, jahe, tomat, daun jeruk, cabe, bawang, kacang, pasta ikan dan bubuk kacang panjang panggang. Saat mencobanya, saya sudah menyiapkan mental untuk rasa yang aneh di lidah, mengingat bahan pembuatnya cukup banyak dan bervariasi. Namun ketika lidah saya mulai merasakan thoke, rasanya kaya, segar dan bisa saya nikmati. Kuliner ini mengingatkan saya dengan citarasa campuran masakan Melayu, Thailand dan Vietnam. Selain thoke, beberapa masakan Myanmar yang kaya dengan citarasa asam dan pedas tak terlalu sulit beradaptasi dengan lidah Melayu, kecuali kamu benar-benar tidak menyukai masakan pedas dan asam, dapat mencoba aneka olahan mie, bihun dan nasinya yang mirip mie, bihun dan nasi goreng lokal atau dengan mencoba ‘set menuala Myanmar, yang berisi nasi putih, sup bening sayuran, cabe kering yang telah dicacah dan juga ikan asin! Menarik dan tentunya mampu diterima lidah kita.

 

Sarapan ala masyarakat Myanmar yang disediakan di penginapan saya
Sarapan ala masyarakat Myanmar yang disediakan di penginapan saya. Rasanya enak dan bisa diterima lidah.
Nasi goreng ala Myanmar, selalu lengkap dengan kondimen-kondimennya, termasuk cabe kering!
Nasi goreng ala Myanmar, selalu lengkap dengan kondimen-kondimennya, termasuk kuah dan cabe kering!

Perhatikan Waktu Terbaik Berkunjung

Desember hingga Februari merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Myanmar karena cuacanya yang cukup mendukung, tidak terlalu panas sebab musim hujan baru berakhir. Sedangkan pada Maret hingga Mei, suhu di Yangon dan Bagan mencapai lebih dari 40 derajat Celcius! Saya yang saat berkunjung di akhir April dan awal Mei tidak mengetahui informasi ini akhirnya harus pasrah beraktivitas di bawah panas dan teriknya matahari hingga maksimal pukul 10.30 saja. Selebihnya saya memilih bersantai di hotel dan melakukan kegiatan lain, seperti berjalan-jalan ke area yang sangat dekat hotel atau ke pasar tradisional untuk membeli kain.

aneka longyi di pasar
aneka longyi di pasar

 

Salah satu sudut di pasar Mani-Sithu, Nyaung U, Bagan
Salah satu sudut di pasar Mani-Sithu, Nyaung U, Bagan. Terlihat perempuan penjual memakai longyi.
Saya nggak mau kalah, ikutan pakai longyi juga. Cocok ngga?
Saya nggak mau kalah, ikutan pakai longyi juga. Cocok ngga?

Selain kondisi cuaca dan udara, jika kamu berencana naik balon udara untuk mengeksplorasi kecantikan kota arkeologi ini, pastikan kamu berangkat di bulan yang tersedia operator balon udaranya. Oktober hingga Maret adalah waktu tersedianya balon udara di Bagan. Tip dari saya, pesan perjalanan balon udara atau kontak operator penyedia layanan sekitar 1 bulan sebelum kamu berangkat ke Myanmar, terutama jika kamu datang di high season, seperti Natal atau Tahun Baru.

 

Selfie sambil nutup tulisan
Selfie sambil nutup tulisan. Last but not least, cobain deh ke Myanmar! Aku, sih, suka banget yaa.. 😀
Views All Time
Views All Time
2148
Views Today
Views Today
1
Jejak Kuno di Myanmar
Tagged on:                                                                                                     

7 thoughts on “Jejak Kuno di Myanmar

  • 26 October 2016 at 4:14 PM
    Permalink

    Salah satu destinasi paling berkesan buat gue 😀
    Gila ya, kalo di sini kan dikit2 lihat Indomaret, di Bagan mah dikit2 lihat candi :))

    Gue pun gak kebagian naik balon di sana, gara-gara cuaca tak bersahabat..huhu sedih deh.. (sampe diblog ceritanya hahaha http://indohoy.com/abroads/got-heart-broken-bagan-twice/) )

    Btw lo di Bagan pas lagi panas banget ya? debunya parah dong?

    Reply
    • Inne Nathalia
      26 October 2016 at 4:29 PM
      Permalink

      You had me at ‘dikit2 lihat Indomaret’, haha.. Iya, Vir.. ga sanggup panasnyaa ampun.. Rindu yaa sama pemandangannya. Asli suka kangeeen :’)

      Reply
  • 28 October 2016 at 11:06 AM
    Permalink

    wahhh,, keren mbak, banyak candi disana yak,,

    duh sayang gk bisa naik balon udara padahal viewnya oke ya mbak..

    Reply
  • 28 October 2016 at 11:16 AM
    Permalink

    Pingin bisa ke Bagan satu hari nanti, mba. Pingin nyobain naik hot air balloon di sana.. hehehe. Aku udah pernah coba naik yang di Cappadoccia, Turki.. tapi yg ini pasti beda juga sensasinya kan? 😀

    Reply
  • 1 December 2016 at 10:45 PM
    Permalink

    Aman, sih, mbak.. orangnya juga baik-baik walau kurang bisa bahasa Inggris. maaf yaa baru liat komennya.

    Reply
  • 7 March 2017 at 8:58 PM
    Permalink

    Jogja mungkin kalah ya keberadaan candinya sama disini kak innath..
    btw itu makanan nasgor dan sekitarnya fotonya kayak makanan tradisional indonesia banget..11-12

    Reply
    • Inne Nathalia
      12 March 2017 at 8:59 PM
      Permalink

      Kalo dibanding Jogja ya beda, sih, ya. Di sini isinya candi semua 😀 Iyaa, makanannya agak mirip makanan kita, tapi rasanya beda, sih. Yg aneh2 ada juga, tapi gak aku masukin 🙂 Btw, makasih udah mampir ya.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com